• Tentang School Contest X

    Komunitas Muda School Contest atau lebih dikenal dengan School Contest, adalah sebuah ajang kreativitas dan lomba sekolah tingkat SMP dan SMA TERBESAR se Eks-Karesidenan Kediri...

  • HONDA

    Honda merupakan produsen sepeda motor terbesar di dunia sejak 1959, dan juga produsen mesin pembakaran dalam terbesar dengan produksi lebih dari 14 juta unit tiap tahun.

  • Radar Kediri

    Radar Kediri adalah sebuah surat kabar harian yang terbit di Jawa Timur, Indonesia. Radar Kediri merupakan perkantoran journalist yang bergerak dibidang surat kabar yang terletak di Jl. Raya Gampeng 45 Gampengrejo Kediri, Radar Kediri Termasuk Surat kabar dalam grup Jawa Pos. Kantor pusatnya terletak di kota Kediri.

  • Jawa Pos

    Jawa Pos adalah surat kabar harian yang berpusat di Surabaya, Jawa Timur. Jawa Pos merupakan harian terbesar di Jawa Timur, dan merupakan salah satu harian dengan oplah terbesar di Indonesia. Sirkulasi Jawa Pos menyebar di seluruh Jawa Timur, Bali, dan sebagian Jawa Tengah dan DI Yogyakarta. (wikipedia)

  • Bank Indonesia

    Bank Indonesia selaku bank sentral berdasarkan Undang-Undang No. 23 Tahun 1999 adalah lembaga negara yang independen. Dalam kapasitasnya sebagai bank sentral, Bank Indonesia mempunyai satu tujuan tunggal, yaitu mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah.

  • Jaka Gadis Batik

    Acara selanjutnya di lanjutkan oleh penampilan jaka gadis batik yang di lombakan semua peserta dari kalangan pelajar SMP dan SMA sederajat se-ekskarisidenan Kediri.

  • Dance Competition

    Dance Competition adalah lomba yang paling banyak menarik minat pengunjung, karena lombanya sangat seru ditambah dengan peserta yang sangat antusias mengikuti lomba.

  • SC - X Jadi Berkah

    Gelaran SC memang sangat di tunggu – tunggu oleh seluruh siswa eks-Karisidenan kediri, selain event tahunan yang memberikan wadah untuk berkreasi, SC x juga menjadi berkah untuk yang lainnya.tak terkecuali para pedagang kaki lima yang mendapatkan berkah dari SC X ini. Betapa tidak, omzet yang didapatkan selama SC x ini meningkat hampir 100 %.

  • Juri pemilihan Jaka dan Gadis Batik Radar

    Salah satu juri pada pemilihan Jaka dan Gadis Batik Radar Kediri tahun 2017 ini sangat istimewa, kenapa ? , karena juri yang satu ini didatangkan khusus.

Tampilkan postingan dengan label Budaya Panji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya Panji. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Februari 2017

Cerita rakyat Panji dan Situs Gambyok


        Cerita panji dikenal dengan berbagai versi. Cerita rakyat yang disampaikan dari mulut ke mulut tentu sangat memungkinkan adanya banyak versi. Tak terkecuali cerita Panji. Berbagai versi telah terseber di beberapa daerah di tanah Jawa, bahkan telah tersebar di beberapa negara.  Ini menunjukkan bahwa cerita panji telah begitu dekat di hati masyarakat nusantara.

       Berbicara tentang cerita panji tidak lepas keberadaan dengan kerajaan Kadiri. Dalam sebuah versi diceritakan bahwa cerita rakyat panji ini berkisah tentang asmara putra raja Jenggala dengan putri kerajaan Panjalu. Yang berkisah tentang suasana masyarakat dan juga kerajaan-kerajaan yang berkembang di Jawa Timur dan Bali. Sama sekali tidak mengisahkan latar cerita di India. Ini menjadi kajian unsur intrinsik cerita bahwa ada kemungkinan besar cerita ini berasal tidak jauh dari latar yang dikembangkan dalam cerita tersebut.
       Menurut  Bapak Eko Priyatno, S.S. Arkeolog Pemda Kabupaten Kediri, cerita rakyat Panji ini tidak lepas keberadaannya dengan Situs Gambyok. Di Kediri telah ditemukan sebuah Situs Gambyok yang berada di Desa Gambyok, Kecamatan Grogol.  Situs ini ditemukan oleh Prof Agus dari Jakarta yang telah menemukan data-data Artevak candi yang dibuat sekitar abad 13 Masehi.

       Tim Mading Tindak Kediri sore itu(19/2) langsung bergegas mencari keberadaan Situs Gambyok. Kami harus menempuh jarak yang lumayan jauh dari keberadaan kami di MTsN Pagu. Lebih dari 20 km kami sampai di lokasi dan bahkan harus menyeberang dengan Nambang di Sungai Brantas.

       Situs Panji Gambyok tepat berada di tengah-tengah pemukiman penduduk, tepatnya di Dusun Sarasehan, Desa Gambyok. Dan di sebelahnya terdapat dua makam yang berukuran panjang melebihi ukuran makam pada umumnya. Kepedulian masyarakat dan perhatian pemerintah telah lumayan bagus sebagai bentuk usaha melestarikan peninggalan cagar budaya di tempat ini. Telah dibangunnya semacam pendopo untuk mengamankan keberadaan situs ini.Kami dapat menemukan relief-relief yang berupa rangkaian cerita panji. Dan menurut hasil penelitian ahli yang terpasang dalam papan menuliskan bahwa relief ini merupakan visualisasi dari satu babak kisah cerita “Panji Semirang” yang menggambarkan tokoh-tokohnya, yaitu punta, kertala, Brajanata, Pangeran Anom, Semar, dan Panji Asmorobangun Dari temuan sejarah ini menjadi bukti  bahwa cerita panji memang bercikal-cakal dari Kerajaan Kadiri. Sebuah kebanggaan lagi bagi kami warga kediri. Menunjukkan bahwa Kediri yang kaya akan alam yang indah, sejarah, adat, budaya yang adiluhung ditambah lagi foklor yang telah membumi di hati masyarakat dan bahkan telah mendunia.Kegiatan eksplor ini tentu akan membuka wawasan kita untuk mengenal lebih dekat khasanah budaya yang ada di daerah kita sehingga akan lebih mencintai lagi bumi kita kediri. 

Share:

Sabtu, 18 Februari 2017

Kisah Keong Mas





      (23/02/2017)Pada zaman dahulu, hiduplah seorang Raja bernama Kertamarta. Ia memimpin sebuah kerajaan yang sangat megah dan indah, nama kerajaan itu adalah kerajaan Daha. Raja Kertamarta memiliki 2 orang putri yang sangat cantik bernama Dewi Galuh dan Candra Kirana. Kehidupan mereka sangatlah berkecukupan dan bahagia.

Pada suatu hari, datanglah seorang Pangeran tampan dari Kerajaan Kahuripan bernama Raden Inu Kertapati. Kedatangan Raden Inu Kertapati memiliki suatu tujuan yaitu untuk melamar salah satu putri dari Raja Kertamarta. Putri Raja Kertamarta yang akan dilamar oleh Raden Inu Kertapati adalah Candra Kirana. Kedatangan Raden Inu disambut sangat baik oleh Raja Kertamarta. Putri Candra Kiranan pun akhirnya menerima lamaran Pangeran Raden Inu Kertapati.

Lamaran Raden Inu kepada Candra Kirana membuat Dewi Galuh merasa sangat marah dan iri hati. Ia menaruh hati kepada Raden Inu dan merasa bahwa hanya dirinyalah yang cocok sebagai tunangan 
Raden Inu . Perasaan cemburu ini mengkibatkan Dewi Galuh membuat rencana busuk menyingkirkan Candra Kirana dari Kerajaan.

Suatu hari, Dewi Galuh secara diam-diam menemui seorang penyihir jahat. Ia meminta bantuan untuk menyingkirkan Candra Kirana kepada penyihir jahat itu. Dewi Galuh menyuruh sang penyihir jahat merubah Candra Kirana menjadi sosok yang menjijikan agar Raden Inu Kertapati menjauhinya. Dewi galuh pun berharap menjadi penganti Candra Kirana sebagai tunangan Raden Inu.


Penyihir jahat menyetujui permintaan Dewi Galuh. Namun penyihir jahat tidak dapat masuk kedalam kerajaan karena akan menimbulkan kecurigaan. Akhirnya Dewi Galuh memfitnah Candra Kirana yang membuat Candra Kirana diusir dari Kerajaan. Candra Kirana meninggalkan kerajaan dengan perasaan yang sangat sedih. Di tengah perjalanan Candra Kirana bertemu dengan penyihir jahat dan disihir menjadi Keong Mas. Setelah menyihir Candra Kirana, penyihir jahat membuangnya ke sungai sambil berkata “kutukanmu akan hilang, jika kamu bertemu dengan tunanganmu Raden Inu Kertapati”.

Suatu hari keong mas tersangkut pada jala seorang nenek yang sedang mencari ikan. Melihat keindahan keong mas, sang nenek membawa pulang keong mas dan meletakkannya di sebuah tempayan. Nenek memelihara keong mas dengan sangat baik dan memberinya makan, agar keong mas tidak mati. 

Keesokan harinya, nenek datang ke sungai untuk mencari ikan seperti biasanya. Namun pada hari itu tidak ada satupun ikan yang didapatkan. Karena sudah lama dan lelah menunggu, sang nenek pun kembali pulang kerumahnya. Alangkah terkejutnya sang nenek ketika pulang ke rumah. Ia melihat banyak makanan yang sangat enak tersedia di atas mejanya. Ia merasa sangat heran dan bertanya-tanya siapa yang membuatkan semua makanan yang sudah tersedia ini.

Sang nenek menahan rasa penasarannya. Setiap hari kejadian serupa terjadi secara terus menerus. Karena perasaan penasaran yang sudah tidak terbendung lagi, nenek memutuskan untuk pura-pura pergi ke laut untuk menangkap ikan. Sebenarnya nenek ingin tahu dan mengintip siapa yang membuat makanan itu.

Di saat mengintip, nenek merasa sangat terkejut. Keong Mas yang ia simpan di tempayan berubah menjadi seorang gadis cantik jelita. Gadis cantik itu langsung menyiapkan makanan untuk sang nenek seperti hari-hari sebelumnya. Karena penasaran nenek langsung menghampiri gadis cantik tersebut.


“Siapa kamu putri yang cantik jelita? Dan berasal dari makan kamu?” Tanya Nenek.
Keong Mas yang berubah menjadi wujud aslinya yakni Candra Kirana merasa terkejut dengan kedatangan Nenek yang tiba-tiba. Akhirnya Candra Kirana menceritakan siapa sebenarnya dirinya. Dan menceritakan semua kejadian yang sedang ia hadapi. Setelah Candra Kirana selesai menceritakan kisahnya, ia langsung berubah menjadi Keong Mas kembali.
Sementara itu, tunangan Candra Kirana yakni Raden Inu Kertapati terus mencari keberadaan Candra Kirana yang tiba-tiba hilang secara mendadak entah kemana. Namun selama mencari, ia tidak menerima kabar apapun mengenai Candra Kirana. Raden Inu merasa sangat yakin bahwa Candra Kirana masih hidup dan membuatnya terus mencari tanpa kenal henti. Ia pun berjanji bahwa tidak akan kembali ke Kerajaan jika belum menemukan Candra Kirana tunangannya.

Penyihir jahat mengetahui rencana Raden Inu Kertapati yang akan selalu mencari Candra Kirana. Ia pun melakukan berbagai cara agar Raden Inu tidak dapat menemui Candra Kirana. Sang penyihir jahat akhirnya berubah menjadi burung gagak.

Di tengah perjalanan, sang pangeran terkejut karena bertemu dengan seekor burung gagak yang dapat berbicara. Burung gagak itu mengatakan bahwa ia mengetahui tujuan Raden Inu, Raden Inu merasa sangat senang dan menganggap burung gagak tersebut mengetahui keberadaan Candra Kirana. Ia mengikuti segala bentuk petunjuk yang diberikan burung gagak, yang ternyata petunjuk itu salah karena burung gagak yang merupakan seorang penyihir jahat tidak ingin Raden Inu Kertapati menemui Candra Kirana.

Raden Inu Kertapati bingung dengan petunjuk yang diberikan oleh burung gagak. Di tengah perjalanan mencari Candra Kirana, pangeran Raden bertemu seorang Kakek Tua kelaparan. Ia segera memberikan makanan kepada Kakek Tua tersebut. 
Tanpa diduga, kakek tua itu adalah kakek sakti dan menolong Pangeran Raden dari burung gagak tersebut. Kakek memukul burung gagak penyihir dengan tongkat nya dan tiba-tiba burung gagak tersebut berubah menjadi asap dan menghilang.

Setelah memukul burung gagak penyihir, kakek tua memberikan petunjuk yang benar kepada Pangeran Raden. Pangeran Raden pun segera pergi menuju Desa Dadapan. Berhari-hari waktu yang ditempuh sang pangeran untuk menemukan tunagannya Candra Kirana. Di tengah perjalanannya, Pangeran Raden kehabisan bekal dan merasa sangat haus.

Saat itu Pangeran Raden melihat sebuah Rumah dan segera menuju ke rumah tersebut. Pangeran Raden berniat untuk meminta sedikit minum. Bukan hanya minum yang didapatkan, Pangeran Raden ternyata menemukan seseorang yang selama ini dicari yakni Candra Kirana. Pangeran Raden sangat senang melihat Candra Kirana sedang memasak di dapur rumah yang akan dituju.

Tanpa lama ia pun masuk ke dalam rumah dan langsung menemukan Candra Kirana. Raden Inu Kertapati merasa sangat senang sekali bertemu dengan Candra Kirana, Candra Kirana juga senang bertemu dengan Raden Inu Kertapati karena kutukannya hilang. Candra Kirana mengenalkan Pangeran Raden kepada sang Nenek begitu juga sebaliknya. Sekarang Candra Kirana berubah menjadi wujud aslinya yakni gadis cantik jelita.

Pangeran Raden akhirnya membawa Candra Kirana dan sang nenek penolong pulang ke Kerajaan Daha, kerajaan ayahanda Candra Kirana. Sesampainya di Kerajaan, Candra Kirana menceritakan semua kejadian yang ia alami. Baginda Raja Kertamarta sangat marah terhadap perbuatan yang dilakukan oleh Dewi Galuh.

Akhirnya semua kejahatan yang dilakukan oleh Dewi Galuh terbongkar semuaAtas kejahatan yang ia lakukan, Dewi Galuh harus menerima hukuman yang diberikan oleh Baginda Raja Kertamarta. Namun, karena merasakan ketakutan akan hukuman yang akan didapatkan. Dewi Galuh memutuskan untuk melarikan diri ke dalam hutan yang sangat gelap dan lebat. Sementara itu Baginda Raja Kertamarta meminta maaf kepada Putrinya Candra Kirana. Dengan kembalinya Candra Kirana ke kerajaan, pernihakannya dengan Pangeran Raden Inu Kertapati pun dapat berlangsung. Akhirnya mereka menikah dengan cinta yang besar dan tulus. Mereka pun akhirnya menjadi keluarga yang bahagia.
Share:

Kisah Panji Semirang


         (23/02/2017)Ada sebuah kerajaan bernama Jenggala, dengan putra mahkotanya bernama Raden Inu Kertapati. Dia berwajah rupawan, badannya tegap, dan sangat ramah kepada siapa saja, tanpa memandang status dan jabatannya. Dia sudah bertunangan dengan Dewi Candra Kirana, putri Kerajaan Kediri.

          Pada suatu hari, Raden Inu Kertapati pergi ke Kerajaan Kediri untuk menemui tunangannya. Rombongannya lengkap dengan perbekalan dan pengawal yang sudah siap siaga. Akan tetapi di tengah perjalanan, Raden Inu dan rombonganya dihentikan oleh gerombolan dari Kerajaan Asmarantaka yang dipimpin oleh Panji Semirang. Melihat ada orang yang menyuruhnya berhenti Raden Inu bersiap-siap seandainya harus bertempur. Akan tetapi gerombolan tersebut tidak berniat menyerang mereka. Mereka hanya meminta Raden Inu untuk bertemu dengan pemimpinnya, Panji Semirang.

          Raden Inupun bergegas menemui Panji Semirang tanpa ada rasa takut sedikitpun, ternyata saat tiba di sana Panji Semirang menyambut Raden Inu dengan sangat ramah tamah, sehingga Raden Inu bertanya, “Rupanya engkau tidak seperti yang selama ini diceritakan orang-orang, wahai Panji Semirang?”. Panji Semirangpun mengatakan bahwa selama ini dia hanya mengundang rombongan untuk bertemu dengannya, siapa yang tidak berkenan, maka mau tidak mau akan tetap dipaksa.

          Akhirnya Raden Inu melanjutkan perjalanannya, setelah menceritakan bahwa dia akan menuju Kerajaan Kediri, untuk menemui calon istrinya, Dewi Candra Kirana. Raden Inu baru pertama kali bertemu dengan Panji Semirang. Namun selama pertemuan tersebut dia merasa seperti sudah mengenalnya sebelumnya, sehingga langsung merasa akrab. Hanya saja Raden Inu tidak dapat mengingat kapan dan di mana dia mengenal Panji Semirang. Setelah merasa cukup berbincang-bincang dengan Panji Semirang, Raden Inu akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju Kediri.

          Saat tiba di Kediri, rombongan Raden Inu disambut dengan meriah. Bahkan selir Raja Kediri bernama Dewi Liku yang memiliki putri bernama Dewi Ajeng ikut menyambut kehadiran Raden Inu Kertapati. Hanya saja Raden Inu tidak melihat kehadiran Dewi Candra Kirana. Ketika Raden Inu menanyakan tentang keberadaan Dewi Candra Kirana, Dewi Ajeng mengatakan bahwa Dewi Candra Kirana menderita sakit ingatan dan sudah pergi lama dari kerajaan.

          Mendengar keterangan kepergian Dewi Candra Kirana, Raden Inu kaget sekali sehingga jatuh pingsan. Iapun segera dibawa masuk ke dalam istana. Memanfaatkan kesempatan ini, dan dengan tipu muslihatnya, akhirnya Dewi Liku berhasil membujuk Raja Kediri sehingga mau menikahkan Raden Inu Kertapati dengan Dewi Ajeng. Ketika menjelang acara pernikahan ini segala macam persiapan telah selesai dan Raja Kediri memerintahkan untuk membuat pesta yang sangat meriah.

          Rencana jahat Dewi Liku tidak berhasil. Tiba-tiba terjadi kebakaran yang sangat hebat kebakaran ini mengakibatkan seluruh persiapan pernikahan tersebut habis terbakar. Melihat kejadian tersebut, Raden Inu dan rombonganya berusaha pergi meninggalkan istana, dan setelah berada jauh dari istana, diapun tersadar dan teringat kembali dengan Dewi Candra Kirana, yang sangat mirip sekali dengan Panji Semirang. Dia berpikir bahwa bisa jadi Panji Semirang adalah Dewi Candra Kirana. Kemudian dia dan seluruh rombongannya menuju Kerajaan Asmarantaka, tempat Panji Semirang berada.

          Rupanya Panji Semirang sudah meninggalkan suadah meninggalkan Kerajaan tersebut. Tanpa putus asa, Raden Inu mencari keberadaan Panji Semirang hingga akhirnya tibalah mereka di Kerajaan Gegelang, yang rajanya masih kerabat dari Raja Jenggala. Di Kerajaan Gegelang ini Raden Inu disambut dengan gembira. Rupanya, Negeri Gegelang sedang menghadapi kesulitan, yaitu sedang diganggu oleh gerombolan perampok yang dipimpin oleh Lasan dan Setegal. Akhirnya, Raden Inu bersama-sama dengan pasukan Kerajaaan Gegeleng berhasil juga mengalahkan para perampok dan membunuh kedua pemimpinya.

          Pesta tujuh hari tujuh alam diadakan untuk menyambut kemenangan Raden Inu Kertapati dan pasukannya. Pada malam terakhir pesta tersebut Raja memanggil seorang ahli pantun, seorang pemuda bertubuh gemulai. Pantun yang dibawakannya berisi cerita perjalanan hidup Dewi Candra Kirana dan Raden Inu Kertapati, hal yang membuat Raden Inu menjadi sangat penasaran sehingga akhirnya menyelediki siapa sebenarnya ahli pantun tersebut. Selidik punya selidik, ternyata ahli pantun tersebut adalah Panji Semirang alias Dewi Candra Kirana. Dewi Candra Kirana bercerita bahwa memang Dewi Liku yang membuatnya hilang ingatan hingga akhirnya keluar dari istana Daha. Dia disembuhkan oleh seorang pertapa yang memiliki kemampuan mengobati berbagai penyakit. Setelah semua misteri terungkap jelas, akhirnya Raden Inu Kertapati kembali ke Negeri Jenggala untuk melangsungkan pernikahan meriah, dan menjadi sepasang suami istri yang hidup berbahagia.
Share:

Tari Kethek Ogleng

     



         (23/02/2017)Tari Kethek Ogleng adalah sebuah tari yang gerakannya menirukan tingkah laku kethek (kera).Tari Kethek Ogleng dipentaskan oleh 3 orang penari wanita dan seorang penari laki-laki sebagai manusia kera. Tari ini diawali dengan ketiga penari wanita masuk ke panggung terlebih dulu, kemudian 2 penari berlaku sebagai dayang-dayang dan seorang penari memerankan Putri Dewi Sekartaji, Putri Kerajaan Jenggala, Sidoarjo. Sedangkan seorang penari laki-laki berperan sebagai Raden Panji Asmorobangun dari kerajaan Dhaha Kediri.

          Pada awalnya, tari ini ditarikan oleh masyarakat Desa Tokawi, Kecamatan Nawangan, Pacitan. Dengan menceritakan kisah Raden Asmorobangun dan Dewi Sekartaji yang keduanya saling mencintai dan bercita-cita ingin membangun kehidupan harmonis dalam sebuah keluarga. Namun, Raja Jenggala, ayahanda Dewi Sekartaji, mempunyai keinginan untuk menjodohkan Dewi Sekartaji dengan pria pilihannya. Ketika Dewi Sekartaji tahu akan dijodohkan dengan laki-laki pilihan ayahnya, diam-diam Dewi Sekartaji meninggalkan Kerajaan Jenggala tanpa sepengetahuan sang ayah dan seluruh orang di kerajaan.

          Malam hari, sang putri berangkat bersama beberapa dayang menuju ke arah barat. Berita perginya Dewi Sekartaji itupun didengar oleh Raden Panji. Raden Panji pun bergegas mencari kekasihnya itu, di tengah perjalanan dia singgah di rumah seorang pendeta. Sang Pendeta pun menyarankan untuk pergi ke barat, dengan menyamar sebagai seorang kera. Sedangkan Dewi Sekartaji telah menyamar sebagai Endang Rara Tompe yang sedang berusaha naik gunung dan beristirahat di suatu daerah dan memutuskan menetap disana.

          Tempat tersebut tidak jauh dari keberadaan Raden Panji. Keduanya bertemu dan saling bermain dan menjadi sangat akrab. Awalnya keduanya saling tidak mengetahui penyamaran masing-masing. Dalam gerakan tari, kejadian ini diwakili dengan masuknya manusia Kera ke dalam panggung pentas, menemui Endang Rara Tompe dan kedua pengawalnya. Gerakan manusia Kera (kethek Jw.) melompat-lompat kesana kemari, gerakan berguling-guling menggambarkan persahabatan yang akrab.

          Tarian ini diakhiri dengan gerakan Endang Rara Tompe yang menaiki manusia kera dan berakhir dengan persatuan keduanya, sambil kedua dayang memegangi sang Dewi Sekartaji. Dalam ceritanya, setelah pertemuan itu Endang Rara Tompe mengubah perwujudannya sebagai Dewi Sekartaji dan manusia kera berubah menjadi Raden Panji Asmorobangun. Keduanya kembali ke kerajaan Jenggala untuk melangsungkan pernikahan.

         
Share:

Tentang Saya

M. Taufiq Nur
MTs NEGERI PAGU Author
MTs NEGERI PAGU merupakan sebuah lembaga pendidikan dibawah naungan Kementerian Agama Kab. Kediri, yang beralamatkan di Ds. Menang, Kec. Pagu, Kab. Kediri.